Politik Penjualan Pesawat Siluman di Timur Tengah
Keputusan Arab Saudi menolak jet tempur siluman J-35A buatan China memicu banyak pertanyaan, terutama karena Riyadh juga tidak dapat memperoleh F-35 dari Amerika Serikat akibat veto politik Israel. Situasi ini menempatkan Saudi pada persimpangan strategis dalam modernisasi kekuatan udaranya.
Sejak lama, Arab Saudi memang berambisi memiliki pesawat tempur generasi kelima untuk menjaga keseimbangan kekuatan udara di kawasan Teluk. Namun, akses terhadap teknologi tersebut tidak semudah sekadar memiliki anggaran besar.
Amerika Serikat pernah mengusulkan menjual F-35 kepada Saudi namun belum terwujud karena penolakan Israel dengan alasan menjaga keunggulan militer kualitatif Israel di Timur Tengah. Kebijakan ini telah menjadi prinsip tetap Washington dalam setiap penjualan alutsista canggih di kawasan.
Dalam kondisi tersebut, China menawarkan J-35A sebagai alternatif yang lebih murah dan secara teoritis setara dengan F-35. Namun, Saudi menilai tawaran ini tidak sejalan dengan kebutuhan jangka panjang pertahanan nasionalnya.
Salah satu alasan utama penolakan J-35 adalah faktor kepercayaan teknologi. Meski dipromosikan sebagai jet siluman generasi kelima, kemampuan J-35 masih dianggap belum teruji secara operasional dalam konflik nyata.
Selain itu, integrasi sistem persenjataan China dengan infrastruktur militer Saudi yang selama puluhan tahun berbasis Barat dinilai berisiko tinggi. Perubahan besar semacam itu dapat mengganggu kesiapan tempur dan logistik.
Riyadh juga mempertimbangkan aspek politik dan keamanan strategis. Mengadopsi platform tempur China secara penuh berpotensi menimbulkan ketegangan dengan Amerika Serikat dan sekutu Barat lainnya.
Di sisi lain, Saudi tidak sepenuhnya menutup pintu bagi China. Kerja sama masih berlangsung di bidang energi, infrastruktur, dan teknologi sipil, tetapi sektor pertahanan udara diperlakukan jauh lebih sensitif.
Menariknya, di tengah penolakan terhadap J-35, Saudi justru melirik JF-17 Thunder. Pesawat ini dikembangkan bersama oleh Pakistan dan China, namun berada di kelas generasi 4.5, bukan generasi kelima.
Pilihan terhadap JF-17 dinilai lebih pragmatis. Jet ini lebih mudah diintegrasikan, biaya operasionalnya lebih rendah, dan tidak membawa implikasi geopolitik sebesar pembelian jet siluman murni.
JF-17 juga memberi ruang lebih besar bagi Saudi untuk keterlibatan industri, termasuk potensi perakitan lokal, transfer teknologi terbatas, dan penyesuaian sistem sesuai kebutuhan Riyadh.
Bagi Saudi, JF-17 bukan pengganti F-35 atau pesaing langsung jet generasi kelima. Pesawat ini lebih diposisikan sebagai solusi sementara untuk menutup celah kekuatan udara.
Sementara itu, fokus utama Saudi justru bergeser ke masa depan. Riyadh kini aktif menjajaki kerja sama pengembangan jet tempur generasi keenam bersama Inggris, Italia, dan Jepang dalam program Global Combat Air Programme.
Langkah ini menunjukkan bahwa Saudi tidak ingin terjebak pada produk jadi dengan keterbatasan teknologi. Sebaliknya, Riyadh ingin menjadi bagian dari ekosistem pengembangan teknologi mutakhir sejak awal.
Berbeda dengan J-35 yang merupakan produk siap pakai dengan batas kemampuan yang sudah diketahui, proyek generasi keenam menjanjikan integrasi kecerdasan buatan, drone pendamping, dan jaringan tempur cerdas.
Keputusan ini juga menjadi sinyal kuat bahwa Saudi mengutamakan kemitraan jangka panjang dengan negara-negara industri pertahanan mapan, ketimbang sekadar membeli pesawat murah.
Dalam konteks ini, penolakan J-35 bukan berarti Saudi meremehkan China, melainkan mencerminkan kehati-hatian tinggi dalam urusan pertahanan strategis.
Pilihan terhadap JF-17 pun tidak kontradiktif, karena pesawat tersebut diperlakukan sebagai solusi taktis, bukan simbol arah strategis kekuatan udara Saudi.
Bagi China, keputusan ini merupakan pukulan terhadap ambisinya menembus pasar persenjataan kelas atas di Timur Tengah. Saudi dianggap sebagai calon kunci untuk legitimasi global jet tempur China.
Namun bagi Riyadh, kalkulasi utamanya tetap sederhana: menjaga stabilitas aliansi, kesiapan tempur, dan akses terhadap teknologi paling maju dalam jangka panjang.
Dengan demikian, kombinasi menolak J-35, menerima JF-17, dan membidik jet generasi keenam mencerminkan strategi Saudi yang realistis, berlapis, dan sangat berhitung dalam menghadapi dinamika geopolitik global.
Pesawat Siluman Turkiye
Arab Saudi mulai disebut sebagai salah satu calon pembeli potensial jet tempur KAAN buatan Turkiye seiring upaya Riyadh mendiversifikasi sumber alutsista dan mengurangi ketergantungan pada satu pemasok utama. Ketertarikan ini muncul di tengah keterbatasan Saudi memperoleh jet tempur generasi kelima dari Amerika Serikat, khususnya F-35, akibat pertimbangan geopolitik kawasan dan keberpihakan Washington pada keunggulan militer Israel.
Bagi Saudi, KAAN menawarkan alternatif strategis yang dinilai lebih fleksibel secara politik dibandingkan platform Barat murni maupun China. Turkiye dipandang sebagai mitra Muslim dengan industri pertahanan yang berkembang pesat, serta lebih terbuka terhadap kerja sama produksi, transfer teknologi, dan keterlibatan industri lokal—hal yang sejalan dengan ambisi Saudi membangun basis industri pertahanan nasional melalui Vision 2030.
Sementara itu, bagi Turkiye, keterlibatan Saudi sebagai calon pembeli KAAN akan menjadi penguat legitimasi internasional proyek jet tempur generasi kelima tersebut. Jika terwujud, kerja sama ini berpotensi melampaui sekadar transaksi pembelian, melainkan mencakup pendanaan, produksi bersama, dan pengembangan lanjutan, sehingga membentuk poros baru industri pertahanan di dunia Islam dan kawasan Eurasia.

Tidak ada komentar